Powered By Blogger

Senin, 07 Mei 2012

Askep Tuberkulosis


BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular granulamakosa kronik yang telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu dan paling sering disebabkan oleh kuman Mycobacterium tubercolosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru, 85 % dari seluruh kasus TB adalah TB paru, sisanya (15%) menyerang organ tubuh lain mulai dari kulit, tulang, organ-organ dalam seperti ginjal, usus, otak dan lainnya (Icksan & Luhur, 2008).
Di negara maju seperti Eropa dan Amerika, TB paru relatif mulai langka. Hal ini disebabkan karena tingginya standar hidup masyarakat serta kemajuan dalam cara pengobatan. Resiko TB lebih didasarkan atas faktor sosial, ekonomi, dan tingkat kesehatan individu. Tidak ada perbedaan bermakna antara laki-laki dan perempuan dalam angka kejadian TB. Angka kejadian TB meningkat pada usia ekstrem (anak-anak dan orang tua) dan kelompok resiko tinggi seperti penderita DM, pecandu alkohol, obat bius, immuno-comprumized conditions seperti HIV, malnutrisi dalam pengobatan kortikosteroid dan kemoterapi, gelandangan, orang-orang dalam penjara, dan sebagainya (Icksan & Luhur, 2008)
Sekitar 10 % kasus TBC di seluruh dunia ditemukan di Indonesia, sehingga menempati posisi nomor tiga tebesar setelah India dan Cina. Jumlah kematian yang disebabkan Tuberculosis (TB) tercatat sekitar 5% dari total dua juta kematian di seluruh dunia per tahun. Bahkan diperkirakan TB membunuh sekitar 30 juta manusia dalam 10 tahun terakhir. Di Indonesia, kematian akibat TB tercatat sekitar 46 per 100.000 penduduk pada 2004 atau sekitar 101.000 orang. Dari uraian di atas, kami mengambil kesimpulan bahwa TB telah mengalami peningkatan jumlah penderitanya.








BAB II
KONSEP MEDIK
A.    Definisi
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit akibat kuman Mycobacterium tuberculosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang parenkim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan ke bagian tubuh lainnya, terutama meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosis (Alsagaff, 2005:73).
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis (Somantri, 2008:59).
Berdasarkan beberapa definisi mengenai tuberkulosis di atas, maka dapat dirumuskan bahwa tuberculosis (TB) paru adalah suatu penyakit infeksius yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis yang menyerang parenkim paru, bersifat sistemis sehingga dapat mengenai organ tubuh lain, terutama meningen, tulang, dan nodus limfe.

B.     Etiologi
Tuberculosis disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang mempunyai sifat tahan asam pada perwarnaan. Oleh karena itu, disebut sebagai basil tahan asam (Somantri, 2008:59). Kuman ini berukuran panjang 1 – 4 mm dan tebal 0,3 – 0,6 mm. Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik.
Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan dalam lemari es).

C.    Patofisiologi
Pada waktu batuk/bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet yang mengandung Mycobacterium tuberkulosis dapat menetap di udara bebas selama 1 – 2 jam. Orang dapat terifeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan. Setelah Mycobacterium tuberkulosis masuk ke dalam saluran pernapasan, masuk ke alveoli, tempat di mana mereka berkumpul dan mulai memperbanyak diri. Basil secara sistemik melalui sistem limfe dan aliran darah ke bagian tubuh lainnya (ginjal, tulang, korteks serebri), dan area paru lainnya (lobus atas).
Sistem imun tubuh berespons dengan melakukan reaksi inflamasi. Fagosit (neutrofil & makrofag) menelan banyak bakteri; limfosit melisis basil dan jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dalam alveoli, menyebabkan bronkopneumonia. Infeksi awal biasanya terjadi 2 – 10 minggu setelah pemajanan.
Massa jaringan baru (granulomas), yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati, dikelilingi oleh makrofag yang membentuk dinding protektif. Granulomas diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian sentral dari massa fibrosa ini disebut tuberkel Ghon. Bahan (bakteri dan makrofag) menjadi nekrotik, membentuk massa seperti keju. Massa ini dapat mengalami kalsifikasi, membentuk skar kolagenosa. Bakteri menjadi dorman, tanpa perkembangan penyakit aktif.
Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respons yang inadekuat dari respons sistem imun. Penyakit aktif dapat juga terjadi dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman. Dalam kasus ini, tuberkel Ghon memecah, melepaskan bahan seperti keju ke bronki. Bakteri menyebar di udara, mengakibatkan sebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang memecah menyembuh, membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak, mengakibatkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut, pembentukan tuberkel dan selanjutnya.
Kecuali proses tersebut dapat dihentikan, penyebarannya dengan lambat mengarah ke bawah ke hilum paru-paru dan kemudian meluas ke lobus yang berdekatan. Proses mungkin berkepanjangan dan ditandai oleh remisi lama ketika penyakit dihentikan, hanya supaya diikuti dengan periode aktivitas yang diperbaharui. Hanya sekitar 10% individu yang awalnya terinfeksi mengalami penyakit aktif (Brunner dan Suddarth, 2002).

D.    Manifestasi Klinis
Menurut Jhon Crofton (2002), gejala klinis yang timbul pada pasien Tuberculosis berdasarkan adanya keluhan penderita adalah:
1.    Batuk lebih dari 3 minggu
Batuk adalah reflek paru untuk mengeluarkan sekret dan hasil proses destruksi paru. Mengingat Tuberculosis Paru adalah penyakit menahun, keluhan ini dirasakan dengan kecenderungan progresif walau agak lambat. Batuk pada Tuberculosis paru dapat kering pada permulaan penyakit, karena sekret masih sedikit, tapi kemudian menjadi produktif.
2.    Dahak (sputum)
Dahak awalnya bersifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit, kemudian berubah menjadi mukopurulen atau kuning, sampai purulen (kuning hijau) dan menjadi kental bila sudah terjadi pengejuan.
3.    Batuk Darah
Batuk darah yang terdapat dalam sputum dapat berupa titik darah sampai berupa sejumlah besar darah yang keluar pada waktu batuk. Penyebabnya adalah akibat peradangan pada pembuluh darah paru dan bronchus sehingga pecahnya pembuluh darah.
4.    Sesak Napas
Sesak napas berkaitan dengan penyakit yang luas di dalam paru. Merupakan proses lanjut akibat retraksi dan obstruksi saluran pernapasan.
5.    Nyeri dada
Rasa nyeri dada pada waktu mengambil napas di mana terjadi gesekan pada dinding pleura dan paru. Rasa nyeri berkaitan dengan pleuritis dan tegangan otot pada saat batuk.
6.    Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen bronkus yang disebabkan oleh sekret, peradangan jaringan granulasi, dan ulserasi.
7.    Demam dan Menggigil
Peningkatan suhu tubuh pada saat malam, terjadi sebagai suatu reaksi umum dari proses infeksi.
8.    Penurunan Berat Badan
Penurunan berat badan merupakan manisfestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila proses progresif.
9.    Rasa lelah dan lemah
Gejala ini disebabkan oleh kurang tidur akibat batuk.
10.     Berkeringat Banyak Terutama Malam Hari
Keringat malam bukanlah gejala yang patogenesis untuk penyakit Tuberculosis paru. Keringat malam umumnya baru timbul bila proses telah lanjut.


E.     Komplikasi
Menurut Depkes RI (2002), merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada penderita tuberculosis paru stadium lanjut yaitu:
1.    Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau karena tersumbatnya jalan napas.
2.    Atelektasis (paru mengembang kurang sempurna) atau kolaps dari lobus akibat retraksi bronchial.
3.    Bronkiektasis (pelebaran broncus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru.
4.    Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, dan ginjal.

F.     Pemeriksaan penunjang
1.    Pemeriksaan Laboratorium
1)   Kultur Sputum: Positif untuk Mycobacterium tuberculosis pada tahap aktif penyakit.
2)   Ziehl-Neelsen (pemakaian asam cepat pada gelas kaca untuk usapan cairan darah): Positif untuk basil asam-cepat.
3)   Tes kulit (Mantoux, potongan Vollmer): Reaksi positif (area indurasi 10 mm atau lebih besar, terjadi 48 – 72 jam setelah injeksi intradermal antigen) menunjukkan infeksi masa lalu dan adanya antibodi tetapi tidak secara berarti menunjukkan penyakit aktif. Reaksi bermakna pada pasien yang secara klinik sakit berarti bahwa TB aktif tidak dapat diturunkan atau infeksi disebabkan oleh mikobakterium yang berbeda.
4)   Histologi atau kultur jaringan (termasuk pembersihan gaster; urine dan cairan serebrospinal, biopsi kulit): Positif untuk Mycobacterium tuberculosis.
5)   Biopsi jarum pada jaringan paru: Positif untuk granuloma TB; adanya sel raksasa menunjukkan nekrosis.
6)   Elektrolit: Dapat tak normal tergantung pada lokasi dan beratnya infeksi; contoh hiponatremia disebabkan oleh tak normalnya retensi air dapat ditemukan pada TB paru kronis luas.
7)   Pemeriksaan fungsi paru: Penurunan kapasitas vital, peningkatan rasio udara residu dan kapasitas paru total, dan penurunan saturasi oksigen sekunder terhadap infiltrasi parenkim/fibrosis, kehilangan jaringan paru dan penyakit pleural (Tuberkulosis paru kronis luas).
2.    Pemeriksaan Radiologis
Foto thorak: Dapat menunjukkan infiltrasi lesi awal pada area paru atas, simpanan kalsium lesi sembuh primer, atau effusi cairan. Perubahan menunjukkan lebih luas TB dapat termasuk rongga, area fibrosa.

G.    Penatalaksanaan Medis
1.    Jenis dan Dosis Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
1)   Isoniazid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pertama pengobatan. Sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif yaitu kuman yang sedang berkembang. Dosis harian 5 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 10 mg/kg berat badan.
2)   Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman semi dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniasid. Dosis 10 mg/kg berat badan. Dosis sama untuk pengobatan harian maupun intermiten 3 kali seminggu.
3)   Pirazinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian 25 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg berat badan.
4)   Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis yang sama.
5)   Etambutol (E)
Bersifat menghambat pertumbuhan bakteri (bakteriostatik). Dosis harian 15 mg/kg berat badan, sedangkan untuk intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan 30 mg/kg berat badan.
2.    Tahap Pengobatan
Pengobatan Tuberculosis diberikan dalam 2 tahap yaitu:
1)   Tahap Intensif
Penderita mendapat obat setiap hari. Pengawasan berat/ketat untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua Obat Anti Tuberculosis (OAT).
2)   Tahap Lanjutan
Penderita mendapat jenis obat lebih sedikit dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persistem (dormant) sehingga mencegah terjadinya kekambuhan.
3.    Kategori Pemberian Obat Anti Tuberculosis
1)   Kategori 1 (211RZE/4113R3)
Tahap intensif terdiri dari isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) dan Etambutol (E). Obat-obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan (2 HRZE), kemudian teruskan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari Isoniasid (H) dan Rifampisin (R), diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan (4H3R3).
Obat ini diberikan untuk :
o  Penderita baru TBC paru BTA positif
o  Penderita TBC paru BTA negatif, rontgen positif.
o  Penderita TBC ekstra paru berat.
2)   Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3RE3)
Tahap intensif diberikan selama 3 (tiga) bulan, yang terdiri dari 2 bulan dengan isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari. Setelah itu diteruskan dengan tahap lanjutan selama 5 bulan dengan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Etambutol (E) yang diberikan 3 kali dalam seminggu.
Perlu diperhatikan bahwa suntikan streptomisin diberikan setelah penderita selesai menelan obat.
Obat ini diberikan untuk penderita kambuh, penderita gagal, penderita dengan pengobatan setelah lalai.
3)   Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
Tahap intensif terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z) diberikan setiap hari selama 2 bulan (2HRZ) diteruskan dengan tahap lanjutan terdiri dari Isoniasid (H), Rifampisin (R) selama 4 bulan diberikan 3 kali seminggu (4H3R3).
Obat ini diberikan untuk :
o  Penderita baru BTA negatif dan roentgen positif sakit ringan.
o  Penderita ekstra paru ringan, yaitu TBC kelenjar limfe (limfadenitis), pleuritis aksudativa unilateral, TBC kulit, TBC tulang (kecuali tulang belakang) sendi dan kelenjar adrenal.
4)   OAT Sisipan (HRZE)
Bila pada akhir tahap intensif pengobatan penderita baru BTA positif dengan kategori 1 atau penderita BTA positif pengobatan ulang dengan kategori 2, hasil pemeriksaan dahak masih BTA positif, diberikan obat sisipan Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Etambutol (E) setiap hari selama 1 bulan.

H.    Pencegahan
1.    Imunisasi BCG pada anak balita, vaksin BCG sebaiknya diberikan sejak anak masih kecil agar terhindar dari penyakit tersebut.
2.    Bila ada yang dicurigai sebagai penderita TBC, maka harus segera diobati sampai tuntas agar tidak menjadi penyakit yang lebih berat dan terjadi penularan.
3.    Jangan minum susu sapi mentah, harus dimasak.
4.    Bagi penderita untuk tidak membuang ludah sembarangan.
5.    Tidak melakukan kontak udara dengan penderita, minum obat pencegah dengan dosis tinggi dan hidup secara sehat. Rumah harus baik ventilasi udaranya agar sinar matahari pagi masuk ke dalam rumah.
6.    Tutup mulut dengan sapu tangan bila batuk serta tidak meludah/mengeluarkan dahak di sembarang tempat, menyediakan tempat ludah yang diberi lisol/bahan lain yang dianjurkan dokter, dan untuk mengurangi aktivitas kerja serta menenangkan pikiran.
















BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
Pengkajian adalah pengumpulan data yang cermat tentang pasien, keluarga, dan kelompok melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan (Carpenito, 1999:24).
Menurut Doengoes 1999, dalam pengkajian pada pasien tuberculosis paru akan ditemukan data-data sebagai berikut:
1.    Aktivitas / istirahat
Gejala: Badan lemah, sesak nafas, kesulitan tidur pada malam hari, demam dan menggigil, berkeringat pada malam hari.
Tanda: Takikardia, takipnea/dipsnea pada kerja kelelahan otot, nyeri, dan sesak.
2.    Integritas ego
Gejala: Adanya faktor stress, masalah keuangan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan.
Tanda: Menyangkal, ansietas, ketakutan, dan mudah tersinggung.
3.    Makanan/cairan
Tanda: Turgor kulit kering/kulit bersisik, dan kehilangan otot.
4.    Nyeri/kenyaman
Gejala: Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda: Berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, gelisah.
5.    Pernapasan
Gejala: Batuk produktif atau tak produktif dan sesak nafas.
Tanda: Peningkatan frekuensi pernapasan (penyakit luas atau fibrosis parenkim paru dan pleura), perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural) atau penebalan pleural.
6.    Keamanan
Gejala: Adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, kanker serta tes HIV positif.
Tanda: Demam rendah atau sakit panas akut.
7.    Interaksi sosial
Gejala: Perasaan isolasi atau penolakan karena penyakit menular, perubahan pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisik untuk melaksanakan peran.
8.    Penyuluhan atau pembelajaran
Gejala: Riwayat keluarga tuberculosis, status kesehatan buruk, gagal untuk membaik atau kambuhnya tuberculosis, tidak berpartisipasi dalam terapi.
Rencana Pemulangan: Memerlukan bantuan dengan/gangguan dalam terapi obat, dan bantuan perawatan diri, serta pemeliharaan atau perawatan rumah.

B.     Diagnosa
Diagnosa yang dapat muncul (menurut Doenges, 1999):
1.    Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan atau infeksi.
2.    Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret yang kental atau berlebih.
3.    Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru.
4.    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
5.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan, dan pencegahan berhubungan dengan kurang informasi.
6.    Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
7.    Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
8.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.

C.    Intervensi dan Kriteria Hasil
a.       Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan atau infeksi.
Kriteria hasil:
Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko penyebaran infeksi. Menunjukkan/melakukan perubahan pola hidup untuk meningkatkan lingkungan yang aman.
Intervensi dan rasional:
1.      Kaji patologi penyakit dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet udara selama batuk, bersin, meludah, bicara, tertawa, dan menyanyi.
Rasional: Membantu pasien menyadari atau menerima perlunya mematuhi program pengobatan untuk mencegah pengaktifan berulang atau komplikasi.
2.      Identifikasi orang lain yang beresiko, contoh anggota rumah, sahabat karib/teman.
Rasional: Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran/terjadinya infeksi.
3.      Anjurkan pasien untuk batuk dan bersin dan mengeluarkan pada tisu dan hindari meludah.
Rasional: Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi.
4.      Kaji tindakan kontrol infeksi sementara, contoh masker atau isolasi pemapasan.
Rasional: Dapat menurunkan rasa, terisolasi pasien dan membuang stigma sosial berhubungan dengan penyakit menular.
5.      Awasi suhu sesuai indikasi.
Rasional: Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut.
6.      Tekankan pentingnya untuk tidak menghentikan terapi obat.
Rasional: Kombinasi agen anti infeksi digunakan 2/1 obat primer tambah I obat sekunder.
7.      Berikan agen antiinfeksi sesuai indikasi
Rasional: Mempermudah pelaksanaan intervensi lain.
b.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret yang kental atau berlebih.
Kriteria hasil:
Mempertahankan jalan napas pasien. Mengeluarkan sekret tanpa bantuan. Menunjukkan prilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas. Berpartisipasi dalam program pengobatan sesuai kondisi. Mengidentifikasi potensial komplikasi & melakukan tindakan tepat
Intervensi dan rasional:
1.      Kaji fungsi pernapasan, bunyi napas, kecepatan, irama dan kedalaman dan penggunaan otot aksesori.
Rasional: Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis.
2.      Catat kemampuan untuk mengeluarkan dahak atau batuk efektif dan catat karakter, jumlah sputum, adanya hemoptisis.
Rasional: Pengeluaran sulit bila sekret kental, sputum berdarah kental atau cerah diakibatkan kerusakan (kavitasi) atau lulcaan bronchial.
3.      Atur posisi semi atau fowler tinggi.
Rasional: Memaksimalkan ekspansi paru.
4.      Ajarkan pasien untuk batuk efektif dan nafas dalam.
Rasional: Ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan ke dalam jalan napas besar untuk dikeluarkan.
5.      Bersihkan sekret dari mulut dan trakea, pengisapan sesuai keperluan.
Rasional: Mencegah obstruksi atau aspirasi, pengisapan dapat diperlukan apabila pasien tidak mampu mengeluarkan sekret.
6.      Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali kontra indikasi.
Rasional: Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan sekret dan mudah dikeluarkan.
7.      Lembabkan udara/oksigenasi inspirasi
Rasional: Mencegah pengeringan membran mukosa; membantu pengenceran sekret.
8.      Berikan obat-obatan sesuai indikasi.
Rasional: Mempermudah pelaksanaan intervensi lain.
c.       Resiko tinggi terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan permukaan efektif paru.
Kriteria hasil:
Melaporkan tidak terjadi dispnea. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal. Bebas dari gejala distress pernapasan.
Intervensi dan rasional:
1.      Kaji dispnea/takipnea tak normal atau menurunnya bunyi napas, peningkatan upaya pernapasan, terbatasnya ekspansi dinding dada dan kelemahan.
Rasional: Tuberculosis paru menyebabkan efek luas pada paru dari bagian kecil bronco pneumonia sampai inflamasi difus, nekrosis, efusi pleural dan fibrosis luas.
2.      Catat sianosis atau perubahan warna kulit, termasuk membran mukosa dan kuku.
Rasional: Akumulasi sekret atau pengaruh jalan napas dapat mengganggu oksigenasi organ vital dan jaringan.
3.      Dorong bernapas bibir selama ekshalasi
Rasional: Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps/penyempitan jalan napas.
4.      Tingkatkan tirah baring atau batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan.
Rasional: Menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan selama periode penurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala.
5.      Berikan oksigen tambahan yang sesuai.
Rasional: Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi/permukaan alveolar paru.
d.      Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Kriteria hasil:
Menunjukkan berat badan meningkat mencapai tujuan dengan nilaiü laboratoriurn normal dan bebas tanda malnutrisi. Melakukan perubahan polaü hidup untuk meningkatkan dan mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi dan rasional:
1.      Catat status nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan.
Rasional: Berguna dalam mendefinisikan derajat atau luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat.
2.      Awasi masukan atau pengeluaran dan berat badan secara periodik.
Rasional: Mengatur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.
3.      Dorong dan berikan periode istirahat sering.
Rasional: Membantu menghemat energi khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat saat demam.
4.      Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat.
Rasional: Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tidak perlu atau kebutuhan energi dari makan¬-makanan banyak dan menurunkan iritasi gaster.
Kolaborasi:
5.      Rujuk ke ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Rasional: Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet.
6.      Awasi pemeriksaan lab, mis. BUN, protein serum, dan albumin.
Rasional: Nilai rendah menunjukkan kebutuhan program terapi
7.      Berikan antipiretik tepat.
Rasional: Demam meningkatkan kebutuhan metabolik dan juga konsumsi kalori.
e.       Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan kurang informasi.
Kriteria hasil:
Menyatakan pemahaman proses penyakit/prognosisdan kebutuhan pengobatan. Melakukan perubahan prilaku dan pola hidup unruk memperbaiki kesehatan umurn dan menurunkan resiko pengaktifan ulang luberkulosis paru. Mengidentifikasi gejala yang mernerlukan evaluasi/intervensi. Menerima perawatan kesehatan adekuat.
Intervensi dan rasionalisasi:
1.      Kaji kemampuan pasien untuk belajar, contoh tingkat takut, masalah, kelemahan, tingkat partisipasi, dan media terbaik.
Rasional: Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu.
2.      Tekankan pentingnya mempertahankan protein tinggi dan diet karbohidrat dan pemasukan cairan adekuat.
Rasional: Memenuhi kebutuhan metabolik mernbantu meminimalkan kelemahan dan meningkatkan penyembuhan.
3.      Berikan instruksi dan informasi tertulis khusus pada pasien untuk rujukan contoh jadwal obat.
Rasional: Informasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi.
4.      Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan, dan alasan pengobatan lama.
Rasional: Meningkatkan kerja lama dlm program pengobatan & mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi pasien.
5.      Dorong pasien dan orang terdekat untuk menyatakan takut. Jawab pertanyaan secara nyata.
Rasional: Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsepsi atau peningkatan ansietas.
f.       Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi paru, batuk menetap.
Kriteria hasil:
Menyatakan nyeri berkurang atau terkontrol. Pasien tampak rileks.
Intervensi dan rasional:
1.      Observasi karakteristik nyeri, misalnya tajam, konstan, dan ditusuk. Selidiki perubahan karakter/lokasi/intensitas nyeri.
Rasional: Nyeri merupakan respon subjektif yang dapat diukur.
2.      Pantau TTV.
Rasional: Perubahan frekuensi TD jantung menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan untuk perubahan tanda vital telah terlihat.
3.      Berikan tindakan nyaman misalnya pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang, relaksasi/latihan nafas.
Rasional: Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik.
4.      Tawarkan pembersihan mulut dengan sering.
Rasional: Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan membran mukosa, potensial ketidaknyamanan umum.
5.      Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batukikasi.
Rasional: Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk.
6.      Berikan analgesik sesuai indikasi.
Rasional: Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif, meningkatkan kenyamanan.
g.      Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi aktif.
Kriteria hasil:
Suhu tubuh kembali normal
Intervensi dan rasional:
1.      Kaji suhu tubuh pasien.
Rasional: Mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensi.
2.      Beri kompres air hangat.
Rasional: Mengurangi panas dengan pemindahan panas secara konduksi. Air hangat mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan hipotermi atau menggigil.
3.      Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum, 1500 – 2000 cc/hari (sesuai toleransi).
Rasional: Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.
4.      Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat.
Rasional: Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.
5.      Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali atau sesuai indikasi.
Rasional: Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien.
6.      Pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program.
Rasional: Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan panas tubuh pasien.
h.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Kriteria hasil:
Melaporkan atau menunjukan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentan normal.
Intervensi dan rasional:
1.      Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan atau kelelahan.
Rasional: Menetapkan kemampuan atau kebutuhan pasien memudahkan pemilihan intervensi.
2.      Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
Rasional: Menurunkan stress dan rangsanagn berlebihan, meningkatkan istirahat.
3.      Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.
Rasional: Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan.
4.      Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat.
Rasional: Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi atau menunduk ke depan meja atau bantal.
5.      Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.
Rasional: Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.









DAFTAR PUSTAKA

Doenges. E. Marylin. 1992.Nursing Care Plan. EGC. Jakarta.
Pearce. C. Evelyn. 1990.Anatomi dan Fisiologi untuk paramedis. Jakarta.
Price, Sylvia Anderson. Edisi 6 : 2006. Patofisiologi, EGC. Jakarta.
Nanda, Diagnosa Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2005-2006
http://ASKEP TBC « Hanikami Oji’s Blog.htm





Tidak ada komentar: